Kesadaran Hati
Diagnosa
dokter menyimpulkan bahwa kantong
empeduku harus diangkat karena dalam kantong empeduku terdapat batu, yang bila
sedang kambuh rasanya seperti sakit lambung. Seumur – umur aku belum pernah
sakit separah ini,apalagi harus operasi. Akupun memberi persetujuan bagi
operasi itu tanpa memberitahu orang tua ku yang sekarang berada di luar negeri.
Namaku
Hetik aku adalah gadis berusia 19 tahun, aku baru saja lulus dari SMA ternama
di Bandung. Aku tinggal bersama para pembantu yang sudah aku anggap seperti
keluarga sendiri. Orang tua ku seorang konglomerat, meraka harus tinggal diluar
negeri karena tuntutan pekerjaan ayah sebagai bisnisman yang super
sibuk.Sempat aku diboyong ke sana,namun rupanya aku tidak familiar dengan
keadaan di Eropa.Akupun memutuskan kembali ke Indonesia dan tinggal sendirian.
Mereka tak pernah tau bagaimana aku di sini,yang mereka tau hanyalah berapa
jatah bulanan yang harus meraka transfer untuk ku. Anehnya aku tak
pernah mempersalahkan hal itu walaupun aku hanya bisa bertemu mereka 2 tahun
sekali.
Setelah
menjalani operesi aku harus tetap berada di rumah sakit untuk pemulihan paling
tidak hingga satu minggu setelah operasi. Akupun menerima tuntutan itu dengan a
smile . Karena menurutku dimanapun aku berada aku bisa bahagia,karena
kebahagian bisa dibuat sendiri walaupun hanya dengan senyuman seorang
diri.Akupun di pindahkan ke ruang inap VIP. Aku cukup nyaman dengan
ruangan ini,disini aku bisa melihat taman rumah sakit yang luas dari jendela
kamar.
Pasca
operasi pertamaku selesai teman – temanku datang menjengukku,hal itu membuat
aku tak jenuh dan tetap ceria. “ternyata di rumah sakit nyaman juga ya..” aku
berkata sambil melihat taman dari jendela kamar. “Kamu ini ngomong apa sich??
Aneh banget baru kali ini ada pasien yang betah di rumah sakit.”sewot Ofa,
teman ku yang super kreatif dan jenius dalam bidang seni. “Pasti ada apa-apanya
nich.. enggak mungkin hetik betah kalau tidak ada sebabnya,hayo kenapa??”
Fajarul teman perempuanku yang rajin dan kalem mempertanyakan hal itu pada ku.
Sambil senyum manis aku menjawab,”enggak ada apa-apa kok.. kalian aja yang
berpikiran aneh-aneh”. “Aku tau pasti gara-gara dokter Irma ya?”kata Fajarul.
“heeekkkkk??”Ofa dengan polosnya bengong dan mengerutkan dahinya. “hih... aku
kan masih normal, aku masih suka sama laki-laki tau.” Jawabku sedikit kesal.
“Habis kamu enggak pernah dekat sama cowok sih..hehehehe”Fajarul tertawa sambil
menutupi bibirnya yang tipis.Kamipun bercanda dan bergurau sepanjang siang
itu,tak terasa jam besuk sudah habis meraka pun pulang dan berjanji akan
kembali lagi esok hari.
Petang
berganti malam, rupanya aku tak bisa tidur akupun memutuskan berjalan-jalan di
sekitar rumah sakit. Sambil menggelandang infus aku berjalan menyusuri
lorong-lorong dirumah sakit ini.Saat aku berada di lorong dekat gudang rumah
sakit aku mendengar suara wanita berteriak meminta tolong. Saat aku ingin ke
gudang itu tiba-tiba tanganku di tarik oleh seorang satpam. “Ngapain mbak keluyuran
malam-malam begini?”tanyanya. “Tadi ada yang minta tolong di gudang” kata ku
sambil menunjuk arah gudang.”Oo.. itu sudah biasa mbak, mari kita pergi dari
sini”ajak satpam itu. Kami berdua duduk diruang tunggu, saat itu aku tersadar
bahwa satpam itu ternyata masih muda dan cukup tampan. “Mbak namanya
siapa?”tanyanya, “hetik,kalau kamu?”jawabku malu-malu.”Nama saya Risky mbak”.
“Mas sudah lama kerja disini?”tanyaku. “Baru dua bulan mbak.”jawabnya singkat.
“Oh ya... kata mas tadi digudang sudah biasa ada suara seperti itu, memangnya
tadi suara siapa?”aku bertanya penuh dengan penasaran.””Konon kata orang-orang
disini itu suara arwah suster Lia yang meninggal karena terjebak di mesin
cuci,tubuhnya hancur dilindas mesin pencuci yang katanya menyala sendiri”jawab
risky dengan tenang.”heeiikkk...... aneh banget,masak bisa terjebak di mesin
cuci?”aku penuh keheranan.”Entahlah semua masih menjadi misteri,mari mbak saya
antar ke kamar !” “okay, terima kasih”.
“Aneh
sekali misteri ini aku jadi penasaran ingin cari tau tentang semua ini”hati ku
mengguman sendiri. Saat ku coba memejamkan mata tiba-tiba sesosok suster cantik
menghampiriku dengan senyuman yang sangat manis.Jika aku pria aku pasti tak
kuasa melihat kecantikannya. “Ada apa sus?bukankah sekarang ini waktunya jam
tidur?masak saya harus minum obat lagi?”. Suster membuka bibirnya yang tipis
sambil menjawab”saya tidak membawakan obat, saya hanya mau minta tolong,tolong
selamatkan saya”.Tanganku diambilnya, tangannya begitu dingin seperti es
balok.”apa yang harus saya lalukan?”. Dia hanya menjawab “tolong selamatkan
saya,tolong selamatkan saya”kata itu terusmenerus di ucapkannya. Saat aku
mencoba menenangkannya tiba-tiba suster cantik itu mengeluarkan darah dari
mulut,hidung,mata,dan telinganya.Tangan yang semula mulus menjadi hancur. Aku
pun berteriak ketakutan dan berlari ke sudut ruangan. Dia mendekatitiku dan
semakin mendekat dengan langkahnya yang mengerikan dan terus mengeluarkan
darah sambil terus meminta tolong padaku. Aku ketakutan, ku coba berteriak sekeras
mungkin dan menutup mata ku. Saat kubuka mata,dunia sudah begitu terang
ciciccuit burung sudah terdengar,tubuhku juga sudah di atas ranjang. Apa yang
terjadi semalam menjadi misteri yang harus ku ungkapkan. “Selamat pagi,saatnya
minum obat”suster Liza yang cantik
menghampiriku dengan membawa obat yang rasanya seperti racun tikus.
“Suster
aku boleh tanya sesuatu enggak?” “mau tanya apa?”. “Apa benar dulu ada
seorang suster yang meninggal di dalam mesin cuci yang sekarang ada di gudang?”
. Suster Liza mendadak jadi pucat dan
meninggalkanku begitu saja tanpa menjawab sepatah katapun. Misteri ini semakin
menarik untuk kuselidiki,dan aku yakin aku akan berhasil mengungkapkannya. Saat
aku memikirkannya tiba-tiba ranjangku bergetar,aku mencoba berpengangan erat
agar tidak jatuh. Ada tangan yang memeganggi
lenganku dan ku dengar suara “tolong saya” berulang-ulang aku pun
memejamkan mata sambil tetap berpegangan kuat. Suara itupun akhirnya
menghilang, saatku buka mata kulihat Dokter Irma sudah disampingku.”Semua
diluar dugaan saya ,saluran empedu anda ambrol karena kesalahan saat
operasi yang terlalu lama menjepit
saluran itu”. Kalimat Dokter Irma terdengar seperti petir di telingaku.”Lalu
bagaimana dok?”tanyaku penuh harap. Dengan wajah penyesalan beliau berkata“kita
harus mengoperasinya lagi untuk mengeluarkan racun yang ada di tubuhmu”satu
cambukan lagi datang menghampiriku setelah ku dengar kalimat dari mulut dokter.
Saluran empeduku yang ambrol membuat semua cairan yang dihasilkan oleh hati
bocor dan mengotori organ lainnya.
Parahnya
operasi ini ini tidak cukup dilakukan satu kali karena harus membersihkan
organ-organ dalam agar racunnya tidak menyusup masuk ke organ dalam lainnya.
Setelah operasi kedua aku pasrah dengan keadaanku,apalagi dokter mengatakan kemungkinan hidup saya
kecil. Disisi lain aku harus dioperasi lagi untuk membersihkan organ dalam yang
terkena racun. Kondisiku sudah semakin parah semua terlihat kuning,tubuhku
gemetar dan pendengaranku menurun. Fajarul, Ofa,dan bahkan Risky tetap setia
menemaniku dan berusaha keras menyadarkanku. Setiap aku akan memasuki ruang
operasi mereka selalu berkata”kami akan tetap menunggumu sampai kapanpun,jangan
menyerah”. Saat memandang wajah Risky aku merasa ada yang berbeda,dia sudah
tidak berseragam satpam tapi berseragam layaknya seorang apoteker dirumah
sakit. Wajahnya lebih jelas terhilat dari pada dua temanku yang lain,tapi saat
obat bius disuntikkan di lenganku dan mata mulai terpejam,ku lihat suster
cantik yang meminta tolong padaku dulu mendekatiku.
Kini
aku merasa seperti di alam mimpi,rumah sakit terhilat jauh berbeda bangunnya
terlihat lebih kusam. Ku lihat seorang dokter tampan sedang asik bergurau
bersama suster cantik yang menemuiku dulu,mereka terhilah sangat serasi. Saat
kucoba mendekat dan membaca nama suster itu di bajunya ku lihat ada suster Liza
yang bersembunyi di balik bilik rumah sakit memandangi mereka. Nama suster itu
adalah Lia, “apa mungkin dia suster yang mati misterius itu” hati ku terus
berkata – kata. Saat ku mencoba menepuk bahu suster Lia tanganku dengan
mudahnya menembus badannya,ku mencoba bicara padanya dia tak mendengar. Mereka
semua tidak tau dengan keberadaannku , aku terus mengikuti kemanapun suster Lia
pergi hingga malam tiba. Rumah sakit yang tadinya ramai jadi sepi, saat susuter
Lia berjalan di lorong rumah sakit tiba – tiba suster Liza menariknya. Mereka
bertengkar hebat memperebutkan doter tampan tadi, hingga tiba-tiba suster Liza
menyeret suster Lia ke ruang pencucian baju pasien rumah sakit. Suster Lia
berteriak kesakitan mencoba melepaskan rambutnya dari cengkraman tangan suster
Liza. Aku berusaha menolongnya tapi apa daya aku tak bisa berbuat apa- apa
selain hanya melihatnya saja. Suster Liza membenturkan kepala suster Lia di
tempok hingga pingsan, karena panik suster Liza memutuskan menyeret suster Lia
dan memasukkannya ke sebuah mesin cuci besar yang jarang dipakai. Saat suster
Liza meninggalkannya tiba-tiba kakinya tersandung selang dan tak sengaja dia
menyentuh tombol on mesin cuci itu dengan panik dia mencoba membuka
mesin cuci dan menyadarkan suster Lia tanpa terlebih dulu mematikan mesin cuci
tersebut. Naas suster Lia mati mengenaskan tubuhnya hancur dilindas mesin cuci,
suster Liza meninggalkannya pergi dengan keadaan mesin cuci yang masih menyala.
Tiba-tiba
tubuhku terhempas kedepan,ku coba membuka mataku. Ternyata, aku mengalami near
death experience dan membawaku ke masa lalu. Saat aku tersadar dari koma
kulihat teman-temanku sudah berada di sampingku,mereka terlihat sangat bahagia
melihatku telah sadar dari koma. Aku menceritakan semua yang kulihat saat koma
pada teman-temanku, “mungkin memang suster Liza yang membunuh suster Lia”ceplos
Fajarul saat itu. “tapi bagaimana cara kita membuktikannya”peneh penasan Ofa
menanyakannya pada ku. “Aku belum tau yang pasti kita harus kegudang dulu
sekarang”jawabku. “Jangan, pasti tidak boleh sama satpam begaimana kalau nanti
malam saja?”Risky yang baru datang tiba-tiba memotong pembicaraan kami. “Ide
bagus,biar aku dan Risky saja yang kesana lagi pula sekarang aku sudah sehat
dan tak merasakan sakit lagi kok”sambungku.”Terserah kamu lah yang penting
hati-hati ya?”Fajarul memberikan saran padaku. “siiiaapppppp”.
Malampun
tiba aku dan Risky mencoba masuk ke dalam gudang. Risky menjaga di pintu dan
aku mencoba mencari mesin cuci tua misterius itu. Saat aku menemukannya,aku
membuka mesin itu baunya sungguh amis seperti darah. Saat aku melihat – lihat
dalamnya tiba-tiba aku menemukan sebuah cincin yang bertuliskan nama suster
Liza. “Risky lihat apa yang aku temukan,kemarilah” sambil berlari Risky
menghampiriku “inikan cicncin milik suster Liza yang dulu pernah
hilang,bagaimana kamu bisa menemukannya?”. “simpel... aku menemukan ini di
dalam mesin cuci ini” jawabku tenang “jadi, benar donk yang membunuh suster Lia
itu suster Liza?”penuh penasaran Risky bertanya padaku “entahlah,kita harus
membuktikannya dulu. Tapi bagaimana bisa tak seorangpun tau jika da cincin
disini?”tanyaku pada Risky. “Kematian suster Lia adalah rahasia rumah sakit
ini, sejak kejadian itu mesin cuci langsung di taruh gudang tanpa memeriksanya
dulu”jawab Risky. Tiba- tiba mesin cuci itu bergetar dan menyala,aku dan Risky
sangat ketakutan sesosok wanita bertubuh hancur keluar dari mesin cuci itu dan
menjerit kesakitan. Dia mencoba memegang kakiku, aku dan Risky pun berteriak
dan langsung lari meninggalkan gudang. Aku yang masih lemah pasca operasipun
terjatuh dan tak sadarkan diri saat mencoba berlari sambil memegangi infus
meninggalkan gudang.
Lagi
–lagi saat terbangun aku sudah ada diatas ranjangku. Siang itu aku,Fajarul,Ofa,dan
Risky mendiskusikan apa yang aku dan Risky alami semalam. Kami memutuskan akan
menanyakannya pada suster Liza nanti malam. Lagi-lagi yang harus bekerja hanya
aku dan Risky karena saat malam hari penjenguk dilarang ada di rumah sakit. Saat
suster Liza berada di kamarku untuk memberikan jatah obat malam hari untukku
sontak aku langsung bertanya padanya”apa ini cincin suster?” “dari mana kamu
mendapatkannya?”dia terlihat kaget saat aku memegang cincinnya. “Di dalam mesin
cuci tua yang ada digudang”wajahnya yang semula merekah bahagia seperti bunga
mawar berubah menjadi pucat seperti mayat. Dia langsung menyaut cincinnya dan
pergi begitu saja, aku pun melepas infus dan segera mengejarnya. Melihat
aku keluar dari kamar Risky bergegas lari mengejarku”kamu mau kemana?””suster
Liza kabur dan membawa cincinya”aku mencoba menjelaskannya. “Sudah kamu tunggu
disini saja biar aku yang mengejarnya”Risky menyuruhku menunggunya di ruang
tunggu. Sialnya Risky kehilangan jejak suster Liza “kita harus bagaimana?”tanyanya
“entahlah,kita coba mencarinya lagi”jawabku”baiklah”.
Tiba
– tiba kami mendengar teriakan suster Liza dari lorong dekat gudang,kamipun
segera menuju kesana. Aku dan Risky hanya bisa bengong melihat apa yang terjadi
di depan mata. Hantu suster Lia yang terlihat sangat mengerikan dengan darah di
seluruh tubuhnya dan mata yang tinggal satu melotot dan menyeret suster Liza ke
dalam gudang. Kami mencoba berlari dan menyelamatkan suster Liza yang sedang
berteriak meminta tolong. Risky mencoba meraih tangan suster Liza, akupun
berteriak “lepaskan.... aku mohon suster Lia lepaskanlah suster Liza,berikanlah
dia kesempatan untuk memperbaiki semuanya” sontak semua mata tertuju padaku tak
terkecuali suster Lia. “Aku mohon”lanjutku “maafkan aku Lia, aku janji aku akan
mengatakan yang sebenarnya tentang kematianmu kepada semua orang. Aku mohon
maafkan aku”suster Liza memohon-mohon sambil menangis. Sontak wajah susuter Lia
yang mengerikan berubah menjadi cantik dan baerseri-seri, dia pun tersenyum
pada kami semua. “Terima kasih Lia.. maafkanlah semua kesalahanku pada masa lalu”suster Liza menundukkan kepalanya
untuk menandakan penyesalannya, sontak suster Lia berubah menjadi sosok yang
mengerikan lagi dan tertawa cekikikan sambil meninggalkan kami. Masih teringat
jelas suaranya walaupun wujudnya sudah tidak ada,suara yang membuat bulu kudu
berdiri dan suasana menjadi dingin.
Pagi
hari telah tiba,hari itu aku merasa sangat bahagia. Matahari menyambutku dengan
senyum manisnya,bunga-bunga di taman bergoyang menyapaku, hangatnya sinar
matahari dari jendela membuat kulitku yang sudah mulai keriput katerna dingin
menjadi kencang kembali dan memberi semangat baru untuk hidupku. Dokter Irma
nampak datang ke kamarku dia tampak cantik dan segar,dia memperbolehkanku untuk
pulang hari ini. Sontak aku berteriak kegirangan mendengan berita tersebut,
tapi rasanya pagi ini ada yang kurang “mana suster Liza dok, biasanya dia
selalu bersamamukan?”tanyaku padanya. “Suster Liza tadi pagi menyerahkan diri
ke polisi,ini semua berkat kamu, kamu telah mengungkapkan teka-teki selama ini
dan membuka jalan kejujuran.” Dokter Irma menyanjungku dengan senyum manisnya.
“ah..dokter bisa saja akukan jadi mali xixixixixi”balasku malu-malu.
Tok..tok...tok... terdengar memotong pembicaraan kami, “aaaa....kamu
pualang”ternyata suara itu datang dari Fajarul yang datang bersama Ofa dan
Risky.
Hari
itu begitu menyenangkan dan menjadi sejarah dalam hidupku. Luka bekas operasi
di perutku akan menjadi saksi bisu perjalanan hidup yang tak terlupakan. Semua
membuatku bersemangat untuk mengambil kuliah kedokteran, karena rumah sakit tak
seperti yang aku banyangkan. Ternyata rumah sakit dapat mengubah jalur
hidupku,rumah sakit juga mempertemukanku dengan teman yang baik. Dan rasa sakit
yang kuderita masa lalu membuatku bangkit dan berusaha agar tidaka da lagi
orang yang merasakan sakit yang amat sangat seperti yang pernah kurasakan dulu.
Tuhan telah meberiku kesempatan untuk merasakan pahit manis kehidupan dan
memberiku sahabat-sahabat yang setia padaku apapun keadaanku. Semua tak kan
hialang dalam benak dan akan tetap menjadi mimpi yang sempurna dalam anganku.
“Seberat apapun jalan hidupmu, sepahit apapun pengakuan yang harus
kau akui Jalankanlah! Lakukan semuanya seperti sebuah permainan yang tak memberatkan,namun
menyenangkan. Karena semua itu adalah bagian dari keindahan hidup yang tak kan
terlupakan di memorimu.”
HAN’s Create
END
Cerpen
ini terinpirasi setelah membaca kisah David Albert dalam buku Kisah Lainnya dan
film Antara Ada dan Tiada episode Suster Ngesot.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar