cooler

Senin, 14 Januari 2013

Cerpen


Kesadaran Hati
Diagnosa dokter  menyimpulkan bahwa kantong empeduku harus diangkat karena dalam kantong empeduku terdapat batu, yang bila sedang kambuh rasanya seperti sakit lambung. Seumur – umur aku belum pernah sakit separah ini,apalagi harus operasi. Akupun memberi persetujuan bagi operasi itu tanpa memberitahu orang tua ku yang sekarang berada di luar negeri.
Namaku Hetik aku adalah gadis berusia 19 tahun, aku baru saja lulus dari SMA ternama di Bandung. Aku tinggal bersama para pembantu yang sudah aku anggap seperti keluarga sendiri. Orang tua ku seorang konglomerat, meraka harus tinggal diluar negeri karena tuntutan pekerjaan ayah sebagai bisnisman yang super sibuk.Sempat aku diboyong ke sana,namun rupanya aku tidak familiar dengan keadaan di Eropa.Akupun memutuskan kembali ke Indonesia dan tinggal sendirian. Mereka tak pernah tau bagaimana aku di sini,yang mereka tau hanyalah berapa jatah bulanan yang harus meraka transfer untuk ku. Anehnya aku tak pernah mempersalahkan hal itu walaupun aku hanya bisa bertemu mereka 2 tahun sekali.
Setelah menjalani operesi aku harus tetap berada di rumah sakit untuk pemulihan paling tidak hingga satu minggu setelah operasi. Akupun menerima tuntutan itu dengan a smile . Karena menurutku dimanapun aku berada aku bisa bahagia,karena kebahagian bisa dibuat sendiri walaupun hanya dengan senyuman seorang diri.Akupun di pindahkan ke ruang inap VIP. Aku cukup nyaman dengan ruangan ini,disini aku bisa melihat taman rumah sakit yang luas dari jendela kamar.
Pasca operasi pertamaku selesai teman – temanku datang menjengukku,hal itu membuat aku tak jenuh dan tetap ceria. “ternyata di rumah sakit nyaman juga ya..” aku berkata sambil melihat taman dari jendela kamar. “Kamu ini ngomong apa sich?? Aneh banget baru kali ini ada pasien yang betah di rumah sakit.”sewot Ofa, teman ku yang super kreatif dan jenius dalam bidang seni. “Pasti ada apa-apanya nich.. enggak mungkin hetik betah kalau tidak ada sebabnya,hayo kenapa??” Fajarul teman perempuanku yang rajin dan kalem mempertanyakan hal itu pada ku. Sambil senyum manis aku menjawab,”enggak ada apa-apa kok.. kalian aja yang berpikiran aneh-aneh”. “Aku tau pasti gara-gara dokter Irma ya?”kata Fajarul. “heeekkkkk??”Ofa dengan polosnya bengong dan mengerutkan dahinya. “hih... aku kan masih normal, aku masih suka sama laki-laki tau.” Jawabku sedikit kesal. “Habis kamu enggak pernah dekat sama cowok sih..hehehehe”Fajarul tertawa sambil menutupi bibirnya yang tipis.Kamipun bercanda dan bergurau sepanjang siang itu,tak terasa jam besuk sudah habis meraka pun pulang dan berjanji akan kembali lagi esok hari.
Petang berganti malam, rupanya aku tak bisa tidur akupun memutuskan berjalan-jalan di sekitar rumah sakit. Sambil menggelandang infus aku berjalan menyusuri lorong-lorong dirumah sakit ini.Saat aku berada di lorong dekat gudang rumah sakit aku mendengar suara wanita berteriak meminta tolong. Saat aku ingin ke gudang itu tiba-tiba tanganku di tarik oleh seorang satpam. “Ngapain mbak keluyuran malam-malam begini?”tanyanya. “Tadi ada yang minta tolong di gudang” kata ku sambil menunjuk arah gudang.”Oo.. itu sudah biasa mbak, mari kita pergi dari sini”ajak satpam itu. Kami berdua duduk diruang tunggu, saat itu aku tersadar bahwa satpam itu ternyata masih muda dan cukup tampan. “Mbak namanya siapa?”tanyanya, “hetik,kalau kamu?”jawabku malu-malu.”Nama saya Risky mbak”. “Mas sudah lama kerja disini?”tanyaku. “Baru dua bulan mbak.”jawabnya singkat. “Oh ya... kata mas tadi digudang sudah biasa ada suara seperti itu, memangnya tadi suara siapa?”aku bertanya penuh dengan penasaran.””Konon kata orang-orang disini itu suara arwah suster Lia yang meninggal karena terjebak di mesin cuci,tubuhnya hancur dilindas mesin pencuci yang katanya menyala sendiri”jawab risky dengan tenang.”heeiikkk...... aneh banget,masak bisa terjebak di mesin cuci?”aku penuh keheranan.”Entahlah semua masih menjadi misteri,mari mbak saya antar ke kamar !” “okay, terima kasih”.
“Aneh sekali misteri ini aku jadi penasaran ingin cari tau tentang semua ini”hati ku mengguman sendiri. Saat ku coba memejamkan mata tiba-tiba sesosok suster cantik menghampiriku dengan senyuman yang sangat manis.Jika aku pria aku pasti tak kuasa melihat kecantikannya. “Ada apa sus?bukankah sekarang ini waktunya jam tidur?masak saya harus minum obat lagi?”. Suster membuka bibirnya yang tipis sambil menjawab”saya tidak membawakan obat, saya hanya mau minta tolong,tolong selamatkan saya”.Tanganku diambilnya, tangannya begitu dingin seperti es balok.”apa yang harus saya lalukan?”. Dia hanya menjawab “tolong selamatkan saya,tolong selamatkan saya”kata itu terusmenerus di ucapkannya. Saat aku mencoba menenangkannya tiba-tiba suster cantik itu mengeluarkan darah dari mulut,hidung,mata,dan telinganya.Tangan yang semula mulus menjadi hancur. Aku pun berteriak ketakutan dan berlari ke sudut ruangan. Dia mendekatitiku dan semakin mendekat dengan langkahnya yang mengerikan dan terus mengeluarkan darah  sambil terus meminta tolong padaku.  Aku ketakutan, ku coba berteriak sekeras mungkin dan menutup mata ku. Saat kubuka mata,dunia sudah begitu terang ciciccuit burung sudah terdengar,tubuhku juga sudah di atas ranjang. Apa yang terjadi semalam menjadi misteri yang harus ku ungkapkan. “Selamat pagi,saatnya minum obat”suster  Liza yang cantik menghampiriku dengan membawa obat yang rasanya seperti racun tikus.
“Suster aku boleh tanya sesuatu enggak?” “mau tanya apa?”. “Apa benar dulu ada seorang suster yang meninggal di dalam mesin cuci yang sekarang ada di gudang?” . Suster  Liza mendadak jadi pucat dan meninggalkanku begitu saja tanpa menjawab sepatah katapun. Misteri ini semakin menarik untuk kuselidiki,dan aku yakin aku akan berhasil mengungkapkannya. Saat aku memikirkannya tiba-tiba ranjangku bergetar,aku mencoba berpengangan erat agar tidak jatuh. Ada tangan yang memeganggi  lenganku dan ku dengar suara “tolong saya” berulang-ulang aku pun memejamkan mata sambil tetap berpegangan kuat. Suara itupun akhirnya menghilang, saatku buka mata kulihat Dokter Irma sudah disampingku.”Semua diluar dugaan saya ,saluran empedu anda ambrol karena kesalahan saat operasi  yang terlalu lama menjepit saluran itu”. Kalimat Dokter Irma terdengar seperti petir di telingaku.”Lalu bagaimana dok?”tanyaku penuh harap. Dengan wajah penyesalan beliau berkata“kita harus mengoperasinya lagi untuk mengeluarkan racun yang ada di tubuhmu”satu cambukan lagi datang menghampiriku setelah ku dengar kalimat dari mulut dokter. Saluran empeduku yang ambrol membuat semua cairan yang dihasilkan oleh hati bocor dan mengotori organ lainnya.
Parahnya operasi ini ini tidak cukup dilakukan satu kali karena harus membersihkan organ-organ dalam agar racunnya tidak menyusup masuk ke organ dalam lainnya. Setelah operasi kedua aku pasrah dengan keadaanku,apalagi  dokter mengatakan kemungkinan hidup saya kecil. Disisi lain aku harus dioperasi lagi untuk membersihkan organ dalam yang terkena racun. Kondisiku sudah semakin parah semua terlihat kuning,tubuhku gemetar dan pendengaranku menurun. Fajarul, Ofa,dan bahkan Risky tetap setia menemaniku dan berusaha keras menyadarkanku. Setiap aku akan memasuki ruang operasi mereka selalu berkata”kami akan tetap menunggumu sampai kapanpun,jangan menyerah”. Saat memandang wajah Risky aku merasa ada yang berbeda,dia sudah tidak berseragam satpam tapi berseragam layaknya seorang apoteker dirumah sakit. Wajahnya lebih jelas terhilat dari pada dua temanku yang lain,tapi saat obat bius disuntikkan di lenganku dan mata mulai terpejam,ku lihat suster cantik yang meminta tolong padaku dulu mendekatiku.
Kini aku merasa seperti di alam mimpi,rumah sakit terhilat jauh berbeda bangunnya terlihat lebih kusam. Ku lihat seorang dokter tampan sedang asik bergurau bersama suster cantik yang menemuiku dulu,mereka terhilah sangat serasi. Saat kucoba mendekat dan membaca nama suster itu di bajunya ku lihat ada suster Liza yang bersembunyi di balik bilik rumah sakit memandangi mereka. Nama suster itu adalah Lia, “apa mungkin dia suster yang mati misterius itu” hati ku terus berkata – kata. Saat ku mencoba menepuk bahu suster Lia tanganku dengan mudahnya menembus badannya,ku mencoba bicara padanya dia tak mendengar. Mereka semua tidak tau dengan keberadaannku , aku terus mengikuti kemanapun suster Lia pergi hingga malam tiba. Rumah sakit yang tadinya ramai jadi sepi, saat susuter Lia berjalan di lorong rumah sakit tiba – tiba suster Liza menariknya. Mereka bertengkar hebat memperebutkan doter tampan tadi, hingga tiba-tiba suster Liza menyeret suster Lia ke ruang pencucian baju pasien rumah sakit. Suster Lia berteriak kesakitan mencoba melepaskan rambutnya dari cengkraman tangan suster Liza. Aku berusaha menolongnya tapi apa daya aku tak bisa berbuat apa- apa selain hanya melihatnya saja. Suster Liza membenturkan kepala suster Lia di tempok hingga pingsan, karena panik suster Liza memutuskan menyeret suster Lia dan memasukkannya ke sebuah mesin cuci besar yang jarang dipakai. Saat suster Liza meninggalkannya tiba-tiba kakinya tersandung selang dan tak sengaja dia menyentuh tombol on mesin cuci itu dengan panik dia mencoba membuka mesin cuci dan menyadarkan suster Lia tanpa terlebih dulu mematikan mesin cuci tersebut. Naas suster Lia mati mengenaskan tubuhnya hancur dilindas mesin cuci, suster Liza meninggalkannya pergi dengan keadaan mesin cuci yang masih menyala.
Tiba-tiba tubuhku terhempas kedepan,ku coba membuka mataku. Ternyata, aku mengalami near death experience dan membawaku ke masa lalu. Saat aku tersadar dari koma kulihat teman-temanku sudah berada di sampingku,mereka terlihat sangat bahagia melihatku telah sadar dari koma. Aku menceritakan semua yang kulihat saat koma pada teman-temanku, “mungkin memang suster Liza yang membunuh suster Lia”ceplos Fajarul saat itu. “tapi bagaimana cara kita membuktikannya”peneh penasan Ofa menanyakannya pada ku. “Aku belum tau yang pasti kita harus kegudang dulu sekarang”jawabku. “Jangan, pasti tidak boleh sama satpam begaimana kalau nanti malam saja?”Risky yang baru datang tiba-tiba memotong pembicaraan kami. “Ide bagus,biar aku dan Risky saja yang kesana lagi pula sekarang aku sudah sehat dan tak merasakan sakit lagi kok”sambungku.”Terserah kamu lah yang penting hati-hati ya?”Fajarul memberikan saran padaku. “siiiaapppppp”.
Malampun tiba aku dan Risky mencoba masuk ke dalam gudang. Risky menjaga di pintu dan aku mencoba mencari mesin cuci tua misterius itu. Saat aku menemukannya,aku membuka mesin itu baunya sungguh amis seperti darah. Saat aku melihat – lihat dalamnya tiba-tiba aku menemukan sebuah cincin yang bertuliskan nama suster Liza. “Risky lihat apa yang aku temukan,kemarilah” sambil berlari Risky menghampiriku “inikan cicncin milik suster Liza yang dulu pernah hilang,bagaimana kamu bisa menemukannya?”. “simpel... aku menemukan ini di dalam mesin cuci ini” jawabku tenang “jadi, benar donk yang membunuh suster Lia itu suster Liza?”penuh penasaran Risky bertanya padaku “entahlah,kita harus membuktikannya dulu. Tapi bagaimana bisa tak seorangpun tau jika da cincin disini?”tanyaku pada Risky. “Kematian suster Lia adalah rahasia rumah sakit ini, sejak kejadian itu mesin cuci langsung di taruh gudang tanpa memeriksanya dulu”jawab Risky. Tiba- tiba mesin cuci itu bergetar dan menyala,aku dan Risky sangat ketakutan sesosok wanita bertubuh hancur keluar dari mesin cuci itu dan menjerit kesakitan. Dia mencoba memegang kakiku, aku dan Risky pun berteriak dan langsung lari meninggalkan gudang. Aku yang masih lemah pasca operasipun terjatuh dan tak sadarkan diri saat mencoba berlari sambil memegangi infus meninggalkan gudang.
Lagi –lagi saat terbangun aku sudah ada diatas ranjangku. Siang itu aku,Fajarul,Ofa,dan Risky mendiskusikan apa yang aku dan Risky alami semalam. Kami memutuskan akan menanyakannya pada suster Liza nanti malam. Lagi-lagi yang harus bekerja hanya aku dan Risky karena saat malam hari penjenguk dilarang ada di rumah sakit. Saat suster Liza berada di kamarku untuk memberikan jatah obat malam hari untukku sontak aku langsung bertanya padanya”apa ini cincin suster?” “dari mana kamu mendapatkannya?”dia terlihat kaget saat aku memegang cincinnya. “Di dalam mesin cuci tua yang ada digudang”wajahnya yang semula merekah bahagia seperti bunga mawar berubah menjadi pucat seperti mayat. Dia langsung menyaut cincinnya dan pergi begitu saja, aku pun melepas infus dan segera mengejarnya. Melihat aku keluar dari kamar Risky bergegas lari mengejarku”kamu mau kemana?””suster Liza kabur dan membawa cincinya”aku mencoba menjelaskannya. “Sudah kamu tunggu disini saja biar aku yang mengejarnya”Risky menyuruhku menunggunya di ruang tunggu. Sialnya Risky kehilangan jejak suster Liza “kita harus bagaimana?”tanyanya “entahlah,kita coba mencarinya lagi”jawabku”baiklah”.
Tiba – tiba kami mendengar teriakan suster Liza dari lorong dekat gudang,kamipun segera menuju kesana. Aku dan Risky hanya bisa bengong melihat apa yang terjadi di depan mata. Hantu suster Lia yang terlihat sangat mengerikan dengan darah di seluruh tubuhnya dan mata yang tinggal satu melotot dan menyeret suster Liza ke dalam gudang. Kami mencoba berlari dan menyelamatkan suster Liza yang sedang berteriak meminta tolong. Risky mencoba meraih tangan suster Liza, akupun berteriak “lepaskan.... aku mohon suster Lia lepaskanlah suster Liza,berikanlah dia kesempatan untuk memperbaiki semuanya” sontak semua mata tertuju padaku tak terkecuali suster Lia. “Aku mohon”lanjutku “maafkan aku Lia, aku janji aku akan mengatakan yang sebenarnya tentang kematianmu kepada semua orang. Aku mohon maafkan aku”suster Liza memohon-mohon sambil menangis. Sontak wajah susuter Lia yang mengerikan berubah menjadi cantik dan baerseri-seri, dia pun tersenyum pada kami semua. “Terima kasih Lia.. maafkanlah semua kesalahanku pada  masa lalu”suster Liza menundukkan kepalanya untuk menandakan penyesalannya, sontak suster Lia berubah menjadi sosok yang mengerikan lagi dan tertawa cekikikan sambil meninggalkan kami. Masih teringat jelas suaranya walaupun wujudnya sudah tidak ada,suara yang membuat bulu kudu berdiri dan suasana menjadi dingin.
Pagi hari telah tiba,hari itu aku merasa sangat bahagia. Matahari menyambutku dengan senyum manisnya,bunga-bunga di taman bergoyang menyapaku, hangatnya sinar matahari dari jendela membuat kulitku yang sudah mulai keriput katerna dingin menjadi kencang kembali dan memberi semangat baru untuk hidupku. Dokter Irma nampak datang ke kamarku dia tampak cantik dan segar,dia memperbolehkanku untuk pulang hari ini. Sontak aku berteriak kegirangan mendengan berita tersebut, tapi rasanya pagi ini ada yang kurang “mana suster Liza dok, biasanya dia selalu bersamamukan?”tanyaku padanya. “Suster Liza tadi pagi menyerahkan diri ke polisi,ini semua berkat kamu, kamu telah mengungkapkan teka-teki selama ini dan membuka jalan kejujuran.” Dokter Irma menyanjungku dengan senyum manisnya. “ah..dokter bisa saja akukan jadi mali xixixixixi”balasku malu-malu. Tok..tok...tok... terdengar memotong pembicaraan kami, “aaaa....kamu pualang”ternyata suara itu datang dari Fajarul yang datang bersama Ofa dan Risky.
Hari itu begitu menyenangkan dan menjadi sejarah dalam hidupku. Luka bekas operasi di perutku akan menjadi saksi bisu perjalanan hidup yang tak terlupakan. Semua membuatku bersemangat untuk mengambil kuliah kedokteran, karena rumah sakit tak seperti yang aku banyangkan. Ternyata rumah sakit dapat mengubah jalur hidupku,rumah sakit juga mempertemukanku dengan teman yang baik. Dan rasa sakit yang kuderita masa lalu membuatku bangkit dan berusaha agar tidaka da lagi orang yang merasakan sakit yang amat sangat seperti yang pernah kurasakan dulu. Tuhan telah meberiku kesempatan untuk merasakan pahit manis kehidupan dan memberiku sahabat-sahabat yang setia padaku apapun keadaanku. Semua tak kan hialang dalam benak dan akan tetap menjadi mimpi yang sempurna dalam anganku.
“Seberat apapun jalan hidupmu, sepahit apapun pengakuan yang harus kau akui Jalankanlah! Lakukan semuanya seperti sebuah permainan yang tak memberatkan,namun menyenangkan. Karena semua itu adalah bagian dari keindahan hidup yang tak kan terlupakan di memorimu.” HAN’s Create

END
                Cerpen ini terinpirasi setelah membaca kisah David Albert dalam buku Kisah Lainnya dan film Antara Ada dan Tiada episode Suster Ngesot.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar